Showing posts with label jannah. Show all posts
Showing posts with label jannah. Show all posts

Sep 29, 2010

Indikasi Penyakit Berbahaya

BismiLLAH

AlhamduliLLAH, bersyukur kepadaNYA atas segala karunia yang hingga saat ini masih saya rasakan. Tidak hanya saya, namun juga seluruh mahluk di semesta raya yang luasnya tak mampu dijangkau oleh kemampuan akal manusia yang terbatas. Mulai dari yang mikro hingga yang makro. Semuanya mendapatkan curahan Rahmat dan Kasih SayangNYA tanpa terkecuali. Bahkan hambaNYA yang senantiasa mendustakan dan mengabaikan perintahNYA tetap mendapatkan RahmatNYA secara adil tanpa terzalimi sedikit pun. SubhanaLLAH.

Hari ini ingin bercerita tentang ‘EGO’. Yah, hal satu ini emang paling sulit terdeteksi. Letaknya ada di dalam hati. Hingga tak jarang ia tumbuh subur merambati kebaikan yang kita lakukan. Menurut saya ego adalah sebuah sikap self-minded, artinya seseorang yang memiliki egoisme yang tinggi selalu berpikir tentang dirinya saja. Enggan berkontribusi untuk kebaikan bersama. Dan cenderung memiliki perasaan merasa lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya.

Ini merupakan penyakit hati dan membutuhkan pengobatan serius. Bila kita melihat ada seseorang teman yang sakit karena penyakit yang tampak, luka bakar misalnya, kita bisa langsung memberikan pertolongan pertama padanya. Namun akan sangat berbeda bila seseorang terjangkit penyakit ini. Penyakit ego akan tumbuh dan merusak hati penderita. Membumihanguskan segala amal kebaikan yang pernah ia lakukan. Menjadikan segala kebaikannya sebagai bumerang.

Mengapa? karena syetan akan memperindah sesuatu amal, baik itu amal keburukan maupun amal kebaikan. Tujuannya adalah agar bibit-bibit ego tersebut terpupuk dan mulai tumbuh. Contohnya seperti ini, tentu kita pernah melakukan suatu kebaikan, entah apapun itu yang pasti adalah suatu kebaikan. Tak terpungkiri ketika kita melakukan kebaikan tersebut, ada bisikan lain yang ikut menyusup ke relung hati kita. Bisikannya sangat professional, “wah, amal kebaikanmu ini sangat langka loh...sungguh amat jarang ada seorang sepertimu”. Okay, ini adalah bisikan yang membuat kita merasa bangga atas diri kita, hingga kita lupa bersyukur atas karunia ALLAH Azzawajall atas kita, hambaNYA yang lemah dan faqir.

Kalau syetan memperindah amal keburukan sudah tak perlu saya jelaskan lagi. Karena sudah banyak yang terjadi, dan masih sering kita lakukan. Menunda shalat contohnya. Menomor duakan panggilan ALLAH Azzawajall, Pemilik Semesta Alam. Pemilik waktu siang dan Pemilik waktu malam. Kalau kita mau benar-benar berfikir, sungguh segala rezeqi yang kita terima hari ini, adalah karena izinNYA. Lantas mau sombong seperti apalagi kita ini. AstaghfiruLLAH.

Yang mampu mengobati penyakit ego ini, adalah diri kita sendiri dengan ikhtiar kita sebagai manusia dan hanya memohon pertolongan dan perlindungan kepada ALLAH Azzawajall. Banyak-banyaklah mengingat ALLAH, mengingat begitu luas bumiNYA tempat kita berpijak ini. Berfikirlah tentang silih bergantinya malam dan siang. Dan tunduk patuhlah pada keputusan ALLAH atas hambaNYA. Yaitu menghambakan diri secara total dan ikhlas kepada ALLAH, dan menolak secara baik dan tegas segala bentuk penghambaan diri kepada selainNYA.

WaLLAHua’lambishawwab

Sep 22, 2010

Kelemahan yang Harus Kita Sadari

BismiLLAH

Setapak kutinggalkan iman, ketika ku meng'iya'kan maksiat terlaksana. Itulah yang terjadi ketika diri yang lemah ini senantiasa melalaikan diri dari mengingatNYA. Merasa lebih baik dari yang lainnya padahal belum melakukan apa-apa. Begitu banyak nafilah yang ditinggalkan, namun merasa biasa tanpa ada perasaan bersalah. Padahal ini adalah bentuk dari kemunduran. Kemunduran yang sangat fatal bila dibiarkan berlanjut. Sangat fatal bagi mereka yang memohon kepadaNYA untuk ditunjukan jalan yang lurus.

Menilai seseorang memang mudah, namun menilai diri pribadi sangatlah sulit. Adakalanya kita overestimate, merasa mampu, merasa cukup, merasa memiliki segalanya sehingga lahirlah 'kibr' atau sombong dalam hatinya. Sehingga ia mengejek orang lain dengan memandang rendah, lidahnya tak berucap namun bathinnya meninggi. Tak tampak memang, namun bukankah ALLAH Maha Mengetahui isi hati?

Maka disinilah kelemahan yang harus kita sadari, bahwa kita memiliki kemampuan ini karena ALLAH Azzawajall yang mengkaruniakannya kepada kita. Bukan karena kemampuan otak kita atau karena kita memiliki harta lebih dari yang lainnya. Tak lain semua ini adalah karuniaNYA kepada kita, hambaNYA. Maka bersyukurlah, namun kita harus sadar bahwa kelak karuniaNYA akan dipertanggungjawabkan. Maka binalah sikap kehati-hatian dalam jiwamu, agar ia mengingatkanmu saat kau terlupa.

Adakalanya kita bersikap underestimate, merasa kurang, pesimis, hilang harapan, enggan berusaha. Ini merupakan sikap tercela, karena Muslim terkenal dengan mujahadahnya (kesungguhan). Namun sungguh suatu ketika akan kita jumpai sikap ini dalam diri kita. Seolah kita lupa, bahwa sungguh ALLAH Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. QS. Yasin :82

Sungguh ALLAH Azzawajall memerintahkan kita untuk berusaha, untuk berupaya, untuk bekerja, untuk beramal shaleh. Agar jangan ada rasa putus asa di jiwa kita, karena semua telah diatur olehNYA. ALLAH Azzawajall hendak menguji diantara kita semua, siapa yang mampu bekerja sebaik-baiknya. Siapa yang benar-benar menghambakan diri secara total kepadaNYA. Karena inilah tujuan kita dan jin diciptakan.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS. Adz Dzriyat:56

Dari sini kita mendapati bahwa jiwa kita begitu lemah tak berdaya. Kita sangat membutuhkan ALLAH Azzawajall, kita sangat membutuhkan petunjukNYA. Kita sangat mengharapkan keridhaanNYA. Kita begitu menantikan keberkahanNYA. Kita sangat bergantung kepada KemurahanNYA. Maka bersabarlah bersama keistiqamahan yang membaja, mengakar kokoh tinggi menjulang dalam resistensi ketaqwaan.

Mari kita berangkat untuk terus memperbaiki diri, menyibukan diri dengan nafilah, dengan tilawah, dengan murajaah, dengan silaturahiim, dengan amal mujahadah. Semua kita lakukan semata-mata karena untuk menggapai ridhaNYA. Bukan untuk mendapat apresiasi dari manusia. Sungguh kelak jika kabar gembira itu sampai kepada kita, maka kelak kan kau dapati wajah ini tersenyum indah.

Sungguh kita pernah merasakan kesulitan, dan semua kesulitan itu pun hilang dengan hasil kebaikan yang kita capai atas izinNYA. Begitupun dengan kehidupan kita, kelak kita akan dibalas sesuai dengan apa yang kita kerjakan. Ketika saat itu tiba, maka kelak akan hilanglah rasa penat didalam jiwa, kesempitan akan menjadi lapang. Semua akan indah jika kita bersabar pada ketentuanNYA, berharap hanya kepadaNYA, dan melakukan amal sebaik-baiknya hanya untukNYA.

WaALLAHua'lambishawwab

Sep 11, 2010

Benar-benar Menang atau hanya 'Klaim' Kemenangan

BismiLLAH

Dua hari telah berlalu semenjak fajar syawal tiba. Hingga detik ini kita terus merasakan curahan nikmat karunia ALLAH Azzawajall yang tak terhingga. SubhanaLLAH, semoga ALLAH menerima amal kami dan kita semua.

Beranjak ke fenomena 1 syawal, dimana semua orang yang selesai melaksanakan ibadah shoum di bulan Ramadhan sibuk melakukan silaturahiim. Sebelumnya saya ingin sedikit membahas tentang hikmah Shoum di bulan Ramadhan. Kita lihat sendiri di awal ramadhan, kita menyaksikan bahwa shaf-shaf masjid penuh. Semua berlomba-lomba untuk menuju masjid dan shalat berjamaah. Semua menunaikan perintah shalat berjamaah dengan sangat total.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, ada banyak hikmah yang ALLAH Azzawajall berikan kepada hambaNYA di bulan ini. Semua ketaatan yang dilakukan di bulan ini adalah indikator kebaikan seorang muslim yang harus tetap dijalankan selama 11 bulan berikutnya. Jika di bulan ramadhan tahun ini target kita adalah tidak pernah meninggalkan shalat rawatib 12 rakaat. Maka target ini harus terus berjalan setelah Ramadhan berakhir, terus konsisten tanpa batas waktu yang ditentukan.

Ketaatan kepada ALLAH Azzawajall tidak hanya dilakukan selama ramadhan saja, melainkan terus menerus sepanjang tahun. Ramadhan berikutnya seharusnya sudah memiliki target peningkatan kebaikan dari kebaikan sebelumnya. Lucunya banyak muslim yang beranggapan bahwa taat, ya hanya pada waktu Ramadhan saja. Ini adalah apa yang saya lihat hari ini.

“oops...Untung ramadhan udah selesai” kata seseorang yang baru saja menucapkan kata-kata tidak baik dari mulutnya. Saya yang mendengar hal tersebut merasa sangat sedih. Seperti itukah pemahaman kita terhadap ramadhan? Apakah kita mereduksi ketaatan kita sebagai seorang hamba hanya untuk di bulan ramadhan saja? Bukankah ALLAH Azzawajall memerintahkan kita untuk beribadah kepadaNYA sepanjang waktu?

Kembali ke hari ini, saat saya menyaksikan masjid yang pada saat ramadhan penuh hingga 4 shaff pada shalat isya, kini hanya tingga tinggal kurang dari 1 shaff. Semua orang masih sibuk dengan agenda silaturahiimnya. Saya tidak mengatakan bahwa silaturahiim pada saat Ied itu salah. Namun, tolong mengertilah, bahwa kita adalah ummat yang diperintahkan untuk seimbang. Tidak timpang di salah satu sisinya saja.

Kita boleh bersilaturahiim, namun tidak mengesampingkan ibadah shalat kita. Kadang adapula tamu-tamu yang berkunjung ketika waktu shalat tiba, dan tentu ini menyebabkan orang yang dikunjungi harus tertahan dan tak dapat melaksanakan shalat tepat waktu. Ada etika disini, dan kita sudah mengetahui bahwa waktu-waktu shalat yang harus dipenuhi seruannya. Bukan hanya untuk orang tua yang sudah menginjak usia senja, melainkan untuk semua kalangan usia. Panggilan shalat tepat waktu adalah perintah yang harus kita tunaikan.

Dan kini kita kembali ke makna 'kemenangan' yang sering menghiasi pesan singkat kita ketika Ied tiba. Apakah makna kemenangan disini? Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang menang? Ramadhan ibarat lomba marathon, mereka yang memiliki resistensi atau ketahanan untuk terus konsisten dengan amalnya hingga akhir akan mendapat reward yang luar biasa dari ALLAH Azzawajall. 

Sekarang kita tentu melihat realita, menyaksikannya bahwa banyak yang kembali ke perilaku lama setelah Ied tiba. Lantas apakah gelar orang-orang yang menang itu pantas kita raih? Atau itu hanya klaim sepihak yang kita lakukan untuk ikut-ikutan menang bersama mereka yang benar-benar berjihad? Sudah saatnya bagi kita untuk bermuhasabbah.

WaALLAHua'lambishawwab

Aug 26, 2010

Ketakutan Semu

Bismillah

“(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” QS. Al Anbiya:49

Ingin saya berbagi tentang apa yang saya rasakan ketika saya melintasi ayat ini. Tak kuasa melanjutkan, karena saya ingin mengerti betul hakikat ketaqwaan yang ALLAH Azzawajall berikan melalui firmanNYA tersebut. Pelan-pelan angan saya beranjak untuk mentadabburi maksud ayat tersebut, dan sungguh ilmu itu hanya milik ALLAH Azzawajall, kita tak memilikinya kecuali teramat sedikit dan itupun atas izinNYA.

Jika saya kembali pada realita hari ini, ketika banyak kemungkaran terjadi. Maka dimana rasa takut itu? Dimana sebenarnya esensi rasa takut manusia hari ini bermuara? Apakah ia telah hilang karena ia merasa cukup dengan banyaknya kekayaannya yang katanya ia kumpulkan dengan jerih payahnya? Atau takut itu hanya untuk anak kecil yang dengan mudahnya dibohongi tentang kebohongan-kebohongan bodoh yang disuapi mentah-mentah oleh orang-orang dewasa yang sok pintar.

Setiap kita tentu memiliki apa yang dinamakan 'Ketakutan'. Namun banyak ketakutan kita itu bukan pada hal yang pantas untuk di takuti. Adakalanya takut itu muncul dalam rupa ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kadang takut dipecat dari pekerjaan, atau takut tidak memiliki teman yang ikut mendukung kita, atau takut untuk menjadi miskin, takut terkena musibah, dan yang paling parah dan merupakan penyakit paling mengerikan bagi seorang muslim adalah ketakutan akan Al Maut atau kematian.

Jika telah ada ketakutan akan kematian, maka bisa dipastikan kecintaan kita terhadap dunia ini sudah berlebihan. Bukankah kita harus meyakini bahwa akan ada kehidupan lain yang jauh lebih abadi dari kehidupan dunia yang fana ini. Semua yang kita lakukan di muka bumi ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban olehNYA. Inilah seharusnya yang kita takuti.

Kita tak takut jika berdusta, namun merasa takut jika usaha dagang merugi. Kita tak takut korupsi, namun merasa takut jika jatuh miskin. Kita tak takut bermalas-malas ketika bekerja, namun merasa takut jika diawasi atasan. Kita tak takut merusak alam, namun merasa takut ketika bencana datang. Lalu yang menjadi pertanyaan, sudah benarkah kita meletakan ketakutan kita tersebut?

Bukankah seharusnya kita takut kepadaNYA? Kita takut jika ALLAH mendapati kita dalam maksiat, kita takut jika tugas kita sebagai khalifah di muka bumi tak terlaksana dengan baik. Kita takut jika generasi setelah kita tak mampu memberikan manfaat sebagai hambaNYA. Inilah ketakutan yang harus kita bina, yang harus kita arahkan agar takut itu menjadi pengingat, agar takut itu yang menegur kita ketika kita lalai dariNYA.

Mari kita kembali ke masa ketika Umar Al Khattab menyusuri perbukitan dan mendapai seorang anak yang menggembalakan domba majikannya. Umar ra kemudian berkata kepada anak tersebut “wahai nak, jualah satu dombamu kepadaku?”. Sang anak tadi menjawab “sungguh domba ini bukan milikku tuan, ini milik majikanku dan tugasku hanya menggembalakannya.” Umar ra kemudian kembali bertanya “jumlah dombamu teramat banyak, saya yakin majikanmu tak akan tahu jika kau menjualnya satu kepadaku”. Sang anak tertegun sejenak kemudian berucap “kalau seperti itu, lantas dimanakah ALLAH?”. Umar ra menangis mendengar ucapan anak tersebut, dalam hatinya dia mengucap syukur kepada ALLAH bahwa ada generasi yang memiliki ketakutan kepada ALLAH Azzawajall yang akan mewarisi Dienul Islam ini.

Maka takutlah hanya kepadaNYA. Ini nasihat untuk diri saya yang terkadang masih memberikan rasa takut kepada sesuatu yang seharusnya tak pantas untuk ditakuti. Bukankah ALLAH selalu dekat dengan hambaNYA? Jauh lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Maka takutlah akan hari dimana setiap usaha akan dipertanyakan, setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Pemilik Semesta Alam. Semoga ALLAH mengkarunia kami, hati yang selalu merasa takut kepadaNYA dan jiwa yang selalu terjaga dijalanNYA. Aaamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.

WaALLAHua'lambishawwab

Aug 20, 2010

I'm Home !!!

BismiLLAH


Mungkin banyak yang menyangka, menduga, menebak, atau apapun itu, bahwa saya telah meninggalkan dunia tulis menulis. Namun akan saya bantah disini, karena saya hanya beristirahat sejenak untuk menarik nafas, memandang tinggi langit, kemudian melihat jalan menanjak didepan, dan setelah itu insyaALLAH akan kembali melangkah jika kesempatan masih terbentang untuk saya.

Ada kalanya kita butuh berhenti sejenak, namun bukan untuk berbalik langkah, memutar atau lari dari masalah. Bagi saya berhenti itu merupakan strategi untuk berpikir. Berhenti sejenak, untuk melihat kebelakang mengambil kesimpulan dan mencoba untuk melangkah lagi.

Dalam perhentian itu ada banyak kisah. Ada perasaan yang kadang sulit untuk mengungkapkan rasanya. Ada solusi yang terhenti karena keraguan akan kapabilitas diri. Ada rencana yang tak tertulis hingga ia hilang tak terdeteksi dalam sibuknya lalu lintas data di otak kita.

Dan selanjutnya, yang akan saya lakukan adalah kembali menulis di blog perjalanan ini. Perjalanan panjang yang akan terus diiringi dengan berbagai kisah. Saya sudah siap insyaALLAH untuk menulis semuanya, merangkai setiap kisah menjadikannya sebuah memory yang kusimpan secara online. Sehingga kalian yang membaca blog ini bisa ikut merasakan perjalanan panjang yang begitu menyenangkan ini.

Begitu lama rasanya telah kutinggalkan catatan perjalanan ini. Ada rindu untuk membaca setiap kisahnya. Mungkin bagi banyak orang ini tak ada arti, namun bagiku ini adalah kisah perjalanan yang mencatat perubahan-perubahan diriku yang terus bermetamorfosa untuk meraih kebaikan. Kisah yang ALLAH anugerahkan untuk hambaNYA.

Semoga ALLAH Azzawajall menganugerahkan keistiqamahan kepada hati ini untuk terus menulis. Aamiin

Aug 5, 2010

Belajar dalam Madrasah Ramadhan

Allama Muhammad Iqbal pernah berkisah tentang dirinya, ayahnya dan al-Qur’an. “Saya biasa membaca al-Qur’an selepas shalat subuh. Dan ayah, selalu mengawasi,” tuturnya.

Tidak saja mengawasi, sang ayah juga bertanya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya sang ayah. Padahal jelas-jelas sang ayah melihat anaknya sedang mengaji.

“Aku menjawabnya, sedang membaca al-Qur’an,” kenang Muhammad Iqbal. Pertanyaan itu diulang-ulang oleh sang ayah setiap pagi, selepas subuh, selama tiga tahun penuh. Jawaban yang diberikan juga sama, setiap pagi, selepas subuh, setahun penuh, Muhammad Iqbal menjawab sedang mengaji al-Qur’an.

Lalu, suatu hari Muhammad Iqbal memberanikan diri bertanya kepada sang ayah. “Mengapa ayah selalu menanyakan pertanyaan yang sama, padahal jawaban saya juga selalu sama?”

“Nak, bacalah al-Qur’an itu seolah-olah diturunkan langsung kepadamu.” Dan sejak saat itu, Muhammad Iqbal mengetahui apa pesan di balik pertanyaan ayahnya. Sejak saat itu pula, Muhammad Iqbal senantiasa membangun atmosfir di dalam dirinya, seolah-olah al-Qur’an itu turun langsung untuknya.

Muhammad Iqbal tidak saja membaca, tapi juga mencoba mengerti. Tidak saja mampu mengerti, tapi juga memahami. Tidak sebatas memahami, tapi juga mengejawantah. Tidak saja mengejawantah, tapi juga mencoba untuk menyampaikan kembali isi al-Qur’an seperti yang dipahaminya.

Maka hari ini kita mengenang nama Muhammad Iqbal sebagai salah satu tokoh besar dalam dunia Islam. Bahkan beberapa kalangan menyebutnya sebagai salah satu mujaddid atau pembaharu dalam sejarah Islam. Muhammad Iqbal pantas dan layak menjadi besar, sebab yang ia baca, mengerti, pahami, serta ejawantah dan yang ia sampaikan adalah hal yang sangat besar: al-Qur’an.

Dan lebih dari segalanya, ia mampu membangun sesuatu yang sangat besar: perasaan bahwa al-Qur’an diturunkan langsung untuk dirinya.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur,” (QS al-Baqarah: 185).

Hari ini, kurang lebih ada 1,6 milyar manusia yang berikrar sebagai seorang Muslim. Mereka tersebar di seluruh penjuru dunia. Di Barat dan di Timur. Masing-masing berjibaku dengan hidupnya. Masing-masing sibuk dengan segala agenda. Mencoba memecahkan segala masalah dalam berbagai peristiwa. Bertarung dengan pilihan-pilihan yang tidak ringan dalam kehidupan. Sampai-sampai akhirnya mereka lupa, bahwa sesungguhnya Sang Pencipta Manusia telah membekali kitab panduan tempat segala masalah menemukan jawaban, tempat segala musykilah menemukan rujukan. Al-Qur’an.

Dengan terang Allah SWT menyebutkan, Dia tidak menghendaki kesukaran untuk kita. Dia menghendaki kemudahan untuk manusia.

Hari ini, berapa banyak orang yang mampu membangun atmosfer seperti yang telah mampu dibangun oleh Muhammad Iqbal. Di belahan Asia Tenggara ini sama, kaum Muslimin berjumlah tak kurang dari 400 juta manusia. Dan hampir setengah dari jumlah di atas, lahir, hidup dan tinggal di Indonesia. Negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Mari kita ulang pertanyaannya. Berapa banyak dari jumlah Muslimin di Indonesia yang memiliki perasaan yang sama dengan Muhammad Iqbal? Atau kita perlu mengerucutkan sasaran pertanyaan. Berapa banyak pemimpin-pemimpin umat Islam yang mampu menghadirkan perasaan, bahwa al-Qur’an ini diturunkan untuk dirinya, bukan untuk orang lain, bukan untuk jamaah lain, bukan untuk kaum yang lain? Berapa banyak!?

Bulan ini adalah bulan penuh berkah. Bulan diturunkannya al-Qur’an yang mulia, petunjuk bagi manusia. Jika hari ini kaum Muslimin mampu menghadirkan rasa di atas di dalam jiwa, insya Allah, 50 persen dari masalah sudah teratasi dengan sendirinya. Baik masalah internal ataupun eksternal.

Dan jika kita sudah mampu melakukannya, insya Allah kita juga berani dengan gagah akan berkata, “Takun daulatal islamiyah fii qalbika takun fi ardhika.” Tegakkan dulu Islam di hatimu, maka dia akan tegak sendirinya di muka dunia. Amin.

Aug 2, 2010

Berdoalah, Memintalah, Ramadhan Segera Tiba!

Bulan ini, sekecil apapun ibadah berlipat ganda balasannya. Tapi karena kita sudah terlalu sering mendengar, seolah kita menjadi imun dan kebal. Jangan jadikan, Ramadhan sia-sia!

Sahabat
Seorang ulama Palestina pernah singgah dan silaturahim di kantor kami. Setelah berbincang panjang, saya kemudian mengutarakan sebuah hajat, “Berikanlah nasihat kepada kami.”

Sang ulama dengan wajahnya yang teduh, kemudian berkata dengan sangat sederhana. “Apalagi yang bisa saya nasihatkan? Tidakkah cukup nasihat al Quran untuk kita?”

Begitulah dialog kecil antara saya dengan Syekh Abu Bakr Al-'Awawidah. Sungguh, nasihat yang mendasar dan sangat substansial. Andai saja kaum Muslimin membaca dengan cermat, semua nasihat ada di dalam kitab. Begitu juga dengan Ramadhan, salah satu ayat yang sangat popular dibacakan adalah seruan untuk menunaikan shiam.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS al Baqarah: 183-185)

Ayat ini adalah nasihat langit, dan bagi siapa saja yang mengamalkannya, keberuntungan akan berpihak dan derajat mulia akan menjadi ganjaran. Dalam kitabnya Fadha’ilul Auqat, Imam Albaihaqi mengisahkan tentang turunnya ayat ke-185 dari surat al Baqarah. Beliau mengutip perkataan Ibnu Abi Laili yang berkata, “Sahabat-sahabat kami menuturkan bahwa sesampainya di Madinah, Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa selama tiga hari. Setelah itu turunlah perintah puasa Ramadhan. Padahal (waktu itu) penduduk Madinah belum terbiasa berpuasa, sehingga puasa pun menjadi berat bagi mereka. Akhirnya setiap orang yang tidak kuat berpuasa memberi makan seorang miskin. Maka turunlah ayat, “Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS al Baqarah: 185)

Semua itu demi kemuliaan yang sangat rugi jika kita tinggalkan. Semua waktu adalah mulia di bulan ini. Karena sejak malam pertama di bulan mulia, berbagai keistimewaan telah diberikan Allah pada hamba yang mencari ridha-Nya. Abu Hurairah meriwayatkannya dari Rasulullah yang bersabda, “Apabila memasuki malam pertama bulan Ramadhan, syetan-syetan dan jin-jin akan dibelenggu, semua pintu neraka dikunci dan tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sementara semua pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Lalu sebuah seruan akan menyeru seperti ini, “Wahai orang-orang yang ingin berbuat baik, bersegeralah! Wahai orang-orang yang ingin berbuat buruk, batalkanlah! Dan sesungguhnya pada malam ini Allah membebaskan banyak orang dari api neraka.” (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)

Sejak malam pertama, setiap hari adalah istimewa di bulan mulia. Wahai orang-orang yang ingin berbuat baik, segeralah! Surga sedang menanti dengan pintu yang terbuka.

Barangkali kita sudah terlalu sering mendengar, tentang syetan-syetan yang dibelenggu, pintu neraka yang tertutup rapat dan pintu surga yang dibuka luas. Dan mungkin, karena terlalu sering mendengar, kita menjadi imun dan kebal pada pengertian yang sesungguhnya dari hadits dan kabar istimewa yang diberikan oleh Rasulullah kepada kita. Mungkin, yang perlu kita lakukan adalah duduk sejenak, dengan hati yang sangat tenang, dengan pikiran yang tidak gusar, membaca pelan-pelan dan berdoa kepada Allah agar dibukakan hikmah atas semua hal yang sudah terlalu sering kita dengar. Jika tak turut serta, kita akan tertinggal kereta yang penuh dengan orang-orang yang akan pergi menuju ridha Allah dan berharap bertemu dengan Rasulullah.

Rasulullah saw memberikan kabar gembira, bahwa umatnya akan diberi lima perkara yang belum pernah diberikan oleh Allah pada umat-umat sebelumnya. Pertama, bau tak sedap dari mulut orang-orang yang berpuasa di sisi Allah akan tercium seperti minyak kasturi. Duhai, pertama istimewanya. Kedua, para malaikat akan berdoa meminta ampun atas umat ini sampai tiba waktu berbuka. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa nafsu dan dosa, makhluk yang sangat dekat dan hanya beribadah kepada Allah sedang mendoakan kita, siapa yang tak menginginkannya? Ketiga, setiap hari Allah menghiasa surga dan berkata pada surga, “Hamba-hambaku yang berpuasa akan meninggalkan beban derita dan akan mendatangimu.” Bayangkan, betapa mulianya, sampai-sampai ganjaran yang akan diberikan adalah surga yang dihias Allah sendiri. Keempat, syetan-syetan dibelenggu sehingga mereka tidak akan leluasa berbuat jahat. Mahasuci Allah yang telah memberikan demikian besar perlindungan pada hamba-hamba yang menghendakinya. Kelima, pada malam terakhir Ramadhan, orang yang berpuasa akan diampuni dosanya. Sungguh, jika ada yang tidak berlomba dengan segala keistimewaan ini, entah hatinya terbuat dari apa.

Bersegaralah, bersegaralah! Semua melimpah. Semuanya penuh berkah.

Orang yang memberi makan dan minum kepada mereka yang berpuasa, kata Rasulullah, “Kelak Allah akan memberinya minum dari telagaku.” Duhai, telaga Kautsar yang dijanjikan. Allah akan memberi minum pada kita hanya dengan cara memberi makan dan minum orang-orang yang berpuasa.

Dari Abu Said al Khudri meriwayatkan, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Tidak ada seorang Mukmin yang shalat pada malam harinya, melainkan Allah menuliskannya seribu lima ratus kebaikan untuk setiak sujudnya. Allah membangun untuknya rumah di surga yang terbuat dari permata merah, dengan enam puluh ribu pintu dan setiap pintunya mempunyai istana yang terbuat dari emas dan terbungkus permata merah. Apabila ia melaksanakan puas apada hari pertama Ramadhan, akan diampuni dosanya yang telah lalu sampai hari ini. Barangsiapa hidup di bulan Ramadhan, tujuh puluh ribu malaikat akan memohon ampunan untuknya setiap hari, sejak shalat Subuh sampai terbenam matahari. Setiap sujud yang ia lakukan pada bulan Ramadhan, baik siang atau pun malam akan dibalas Allah dengan sebuah pohon yang mempunyai naungan sejauh perjalanan lima ratus tahun.” (Fadha ‘Ilul Auqat, Imam Albaihaqi)

Sesungguhnya, surga senantiasa berhiasa pada bulan ini. Dan seandainya hamba-hamba tahu kemuliaan dan apa yang terjadi di bulan Ramadhan, niscaya mereka akan berharap sepanjang tahun adalah Ramadhan.

Suatu ketika, sebelum memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah bertanya pada para sahabatnya. “Mahasuci Allah, apa yang hendak kalian jumpai? Apa pula yang hendak menjumpai kalian semua?”

Sahabat Umar bin Khattab maju untuk menjawab. “Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah. Yang akan kami jumlah adalah turunnya wahyu atau datangnya musuh,” ujar Umar bin Khattab ra.

“Bukan itu, melainkan Ramadhan yang pada malam pertanya Allah akan memberikan ampunan untuk umat ini,” jawab Rasulullah kepada seluruh sahabat.

Para sahabat yang mendengar, salah satu diantaranya sampai menggelengkan kepala ada yang berkata, “Bah...bah....”

Melihat hal ini, Rasulullah bertanya. “Sepertinya engkau tidak suka dengan apa yang kamu dengar?”

“Bukan. Bukan begitu, ya Rasulullah. Hanya saja aku teringat orang-orang munafiq,” jawab sahabat.

“Orang munafik adalah kafir dan orang kafir tidak akan mendapat apapun pada bulan ini,” terang Rasulullah.

Naudzubillah, semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku yang akan menjebak kita pada ciri-cirik munafiq. Sebab, tak akan ada kemuliaan yang bisa kita dapatkan.

Perbanyaklah doa di bulan ini, karena tak satupun doa yang tak didengar dan diterima. Ibnu Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah pernah bersabda tentang keistimewaan bulan Ramadhan. “Sesungguhnya, setiap orang yang bertaubat, akan diterima taubatnya. Setiap orang yang berdoa, akan dikabulkan doanya. Setiap orang yang meminta akan dipenuhi permintaannya. Dan apabila tiba waktu berbuka pada setiap malam bulan Ramadhan, Allah membebaskan sebanyak enam puluh ribu orang dari api neraka. Dan apabila Idul Fitri tiba, Allah membebaskan sebanyak yang telah dibebaskan selama sebulan penuh, yaitu tiga puluh hari kali enam puluh ribu orang.”

Bulan ini betapa meruah dengan berbagai anugerah. Maka sungguh masuk akal jika Malaikat Jibril pernah berkata pada Rasulullah tentang kerugian orang yang tak mendapat ampunan di bulan Ramadhan. “Jibril as baru saja berkata kepadaku, “Celakalah seorang hampa yang berpuasa pada bulan Ramadhan tetapi dosanya tidak diampuni.” Lalu aku mengamini....” (HR Ahmad & Tirmidzi)

Apa saja yang membuat kita sia-sia dan karenanya menjadi celaka? Sabda Rasulullah, “Apabila seseorang yang berpuasa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan culas, dan kejahiliyahan, maka Allah tidak butuh pada upayanya meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari, Tirmidzi, Ahmad & Ibnu Majah)

Puasa, sabda Rasulullah, adalah perisai. Dan perisai berfungsi sebagai pelindung. Tapi sabda Rasulullah lagi, puasa adalah perisai selama engkau tidak merusaknya. Maka, jangan rusak Ramadhan kita dengan perilaku yang membuat kita menjadi orang-orang yang tak terlindungi. Mahasuci Allah, semoga puasa ini melindungi kita dari fitnah dunia dan azab akhirat yang tak akan pernah mampu kita menanggungnya.

Jul 20, 2010

A Message To Lazy Muslims by Noreaga

Asalamu Alikum:

This post has been inspired by the hundreds of muslims who base their acceptance or rejection of information or knowledge, on whether or not they are present in hadeeth or Quran.

We have rcved thousands upon thousands of emails with questions stating where is your proof from the quran or hadeeth for saying this, or sharing that. Now what is wrong with this interpretation of knowledge or truth?

For one, i myself believe that the Quran holds all the answers to everything that ever was, and will forever be. I believe that everything we seek can be found in the Quran, and the Quran is the ultimate guidance to our lives. With that said, it should be clearly understood that we are the ones who lack knowledge and understanding to correctly grasp the treasures within the Quran and authentic hadeeth.

The Prophet pbuh placed a high urgency on acquiring knowledge, Several other teachings and sayings by the sahaba and Family revolve around why knowledge should be an obligation on every Muslim, and seeking knowledge is a form of 3ibada or worship. The Quran places a high emphasis on seeking knowledge and tafakur, or believers who take time to deeply think and examine concepts and forms of knowledge. The first word revealed to the prophet pbuh from the ALLAH SWT was "iqraa" or "read". Why do you think this is so?

We just completed a series titled the divine book. This series delves into several scientific miracles within the Quran. It is sad and unfortunate that i must say, if it wasn't for western non-Muslim scientists, we would have never grasped the brilliance of the verses that have been with us for centuries. Meaning if knowledge was not sought, we as Muslims would have never grasped the brilliance of the knowledge present in the Quran. Not because the Quran or hadeeth lacks this knowledge, but bcz we lack the understanding and knowledge to correctly grasp them. This is why muslims should stop being lazy and require hadeeth and quranic verses before deciding to delve and discover subjects. Its your obligation to search, build, seek, study, learn, build, and so on and so forth if you are to advance as an individual, or as an ummah. Just imagine if the scientists at nasa said, u know what we r not gonna delve into this subject bcz it is not present in hadeeth Quran?? Is this what Islam is about? Quite the contrary, it is after you seek knowledge that you truly start to appreciate the wisdom and beauty of the Quran and hadeeth.

Knowledge is never a Waste of time or effort:
Even if information contradicts the Quran and hadeeth, it is your responsibility to master the subject to correctly defend the Quran and hadeeth. You can not provide a quranic verse to an athiest scientist to disprove evolution, bcz he/she simply doesn't believe in the Quran. You have to provide solid evidence based on years of research and knowledge and then link it to the Quran, if you are to be a respected Muslim figure or 3alim (knowledgeable person) on a global scale. And what the wise followers of the Quran do, is use what the Quran reveals as guidance to master the mentioned knowledge at hand. Either way there is no room for a lazy ummah, sitting back and saying "I will not look into this bcz it is not shared in Quran or Hadeeth"

Muslims went from the leaders in the domains of literature, science, math, physics, biology, to a 3rd world ummah of followers, awaiting for knowledge to be fed to them, and whom will not even open a book since at face value the presented piece of information or knowledge is not present in their perspective of the Quran or Authentic hadeeth. Today the majority of scholars are not 3alims, even if they claim to be, because they do not posses the appropriate knowledge to lead the world, the way the true examples of Islam did. Why don't we have a Muslim bill gates?, or a Muslim Nasa? Is it bcz the Quran is not adequate or are we the inadequate ones? No matter how much you stress the hadeeth and the quran, if you are not a leading example in the world or your specific community or environment, then you have clearly not understood them, or their purpose.

The absolute creator is the creator of all forms of knowledge, therefor a journey towards knowledge, is one towards understanding and appreciating the brilliance of our creator ALLAH SWT, as well as yourself.

Wa ALLAHu a3lam.

Hope my point was understood, and helpful to the younger generation of Muslims reading this. We need more leaders, and more muslim noble prize winners, more muslim innovators, inventors, and more examples of accomplished and respected muslims figures.
May ALLAH guide us towards the correct wisdom and knowledge to change the world and ourselves to the better inshaALLAH.

The First Word

IN THE NAME OF ALLAH,
THE MERCIFUL, THE COMPASSIONATE
And from Him do we seek help
All praise be to ALLAH, the Sustainer of All the Worlds,
and blessings and peace be upon our master Muhammed,
and on all his Family and Companions.


[Brother! You wanted a few words of advice from me. So listen to a few truths included in eight short stories, which since you are a soldier, are in the form of comparisons of a military nature. I consider my own soul to need advice more than anyone, and at one time I addressed my soul at some length with Eight Words inspired by eight verses of the Qur'an from which I had benefited. Now I shall address my soul with these same Words, but briefly and in the language of ordinary people. Whoever wishes may listen together with me.]

The First Word

BismiLLAH, In the Name of ALLAH, is the start of all things good. We too shall start with it. Know, O my soul! Just as this blessed phrase is a mark of Islam, so too it is constantly recited by all beings through their tongues of disposition. If you want to know what an inexhaustible strength, what an unending source of bounty is Bismillah, listen to the following story which is in the form of a comparison. It goes like this:

Someone who makes a journey through the deserts of Arabia has to travel in the name of a tribal chief and enter under his protection, for in this way he may be saved from the assaults of bandits and secure his needs. On his own he will perish in the face of innumerable enemies and needs. And so, two men went on such a journey and entered the desert. One of them was modest and humble, the other proud and conceited. The humble man assumed the name of a tribal chief, while the proud man did not. The first travelled safely wherever he went. If he encountered bandits, he said: "I am travelling in the name of such-and-such tribal leader," and they would not molest him. If he came to some tents, he would be treated respectfully due to the name. But the proud man suffered such calamities throughout his journey that they cannot be described. He both trembled before everything and begged from everything. He was abased and became an object of scorn.

And so, my proud soul! You are the traveller, and this world is a desert. Your impotence and poverty have no limit, and your enemies and needs are endless. Since it is thus, take the name of the Pre-Eternal Ruler and Post-Eternal Lord of the desert and be saved from begging before the whole universe and trembling before every event.

Indeed, this phrase is a treasury so blessed that your infinite impotence and want bind you to an infinite power and mercy; it makes that impotence and want a most acceptable intercessor at the Court of One All-Powerful and Compassionate. The person who acts saying, "In the Name of ALLAH," resembles someone who enrolls in the army. He acts in the name of the government; he has fear of no one; he speaks, performs every matter, and withstands everything in the name of the law and the name of the government.

At the beginning we said that all beings say, "In the Name of ALLAH" through the tongue of disposition. Is that so?

Indeed, it is so. If you were to see that a single person had come and had driven all the inhabitants of a town to a place by force and compelled them to work, you would be certain that he had not acted in his own name and through his own power, but that he was a soldier, acting in the name of the government and relying on the power of a king.

In the same way, all things act in the name of Almighty ALLAH, for minute things like seeds and grains bear huge trees on their heads; they raise loads like mountains. That means all trees say: "In the Name of ALLAH," fill their hands from the treasury of Mercy, and offer them to us. All gardens say: "In the Name of ALLAH," and become cauldrons from the kitchens of Divine Power in which are cooked numerous varieties of different foods. All blessed animals like cows, camels, sheep, and goats, say: "In the Name of ALLAH," and become fountains of milk from the abundance of Mercy, offering us a most delicate and pure food like the water of life in the name of the Provider. The roots and rootlets, soft as silk, of all plants, trees, and grasses, say: "In the Name of ALLAH," and pierce and pass through hard rock and earth. Mentioning the name of ALLAH, the name of the Most Merciful, everything becomes subjected to them.""

Indeed, the roots spreading through hard rock and earth and producing fruits as easily as the branches spread through the air and produce fruits, and the delicate green leaves retaining their moisture for months in the face of extreme heat, deal a slap in the mouths of Naturalists and jab a finger in their blind eyes, saying: "Even heat and hardness, in which you most trust, are under a command. For, like the Staff of Moses, each of those silken rootlets conform to the command of, And We said, O Moses, strike the rock with your staff, 1 and split the rock. And the delicate leaves fine as cigarette paper recite the verse, O fire be coolness and peace 2 against the heat of the fire, each like the members of Abraham (UWP).

Since all things say, "In the Name of ALLAH," and bearing ALLAH's bounties in ALLAH's name, give them to us, we too should say, "In the Name of ALLAH." We should give in the name of ALLAH, and take in the name of ALLAH. And we should not take from heedless people who neglect to give in ALLAH's name.

Question: We give a price to people, who are like tray-bearers. So what price does ALLAH want, Who is the true owner?

The Answer: Yes, the price the True Bestower of Bounties wants in return for those valuable bounties and goods is three things: one is remembrance, one is thanks, and one is reflection. Saying, "In the Name of ALLAH" at the start is remembrance, and, "All praise be to ALLAH" at the end is thanks. And perceiving and thinking of those bounties, which are valuable wonders of art, being miracles of power of the Unique and Eternally Besought One and gifts of His mercy, is reflection. However foolish it is to kiss the foot of a lowly man who conveys to you the valuable gift of a king and not to recognize the gift's owner, to praise and love the apparent source of bounties and forget the True Bestower of Bounties is a thousand times more foolish.

O my soul! If you do not wish to be foolish in that way, give in ALLAH's Name, take in ALLAH's Name, begin in ALLAH's Name, and act in ALLAH's Name.

WaALLAHua'lambishawwab

***

Puerto del Suspiro del Moro

Hari ini izinkan saya mendongeng tentang sebuah tempat di Spanyol yang diberi nama seperti judul tulisan ini, Puerto del Suspiro del Moro. Di telinga kalimat di atas terdengar indah mendayu, namun sesungguhnya, kisah yang terkandung dalam kalimat ini sungguh pilu. Puerto del Suspiro del Moro berarti Napas Terakhir Orang Moor atau terjemahan populernya berbunyi Tarikan Napas Terakhir Seorang Muslim.

Puerto del Suspiro del Moro adalah nama sebuah tempat. Tepatnya sebuah gunung. Tempat ketika rombongan Sultan Muhammad XII, khilafah terakhir kesultanan Granada berhenti dan melayangkan pandangan sedih ke arah Istana Alambra yang terpaksa ditinggalkannya karena Ratu Isabella dan Raja Ferdinand mengusir mereka. The last Sultan itu dipaksa mengangkat kakinya.

Sultan Abu Abdillah Muhammad, atau yang bergelar Sultan Muhammad XII berhenti, matanya menerawang, dari pelupuknya menetes air mata penyesalan. Selama 800 tahun Islam memerintah dan melayani Granada, kini dia menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kehancurannya. Ketika menangis di pucuk bukit, sang ibu menegurnya, “Kini kau menangis seperti perempuan. Padahal kau tak pernah memberikan perlawanan seperti seorang laki-laki.”

Kemudian rombongan ini menuju Maroko, tempat pembuangan keluarga Sultan. Karena itu, tempat rombongan ini terdiam, berdiri dan menatap untuk terakhir kalinya Istana Alhambra disebut Puerto del Suspiro del Moro yang berarti Tarikan Napas Terakhir Orang Muslim. Kisah ini pernah ditulis oleh Salman Rushdie dalam novelnya berjudul The Moors Last Sigh. Dan tentu saja, Salman Rushdie menulisnya dengan perspektif dan sudut pandangnya sendiri.

Tapi saya tidak ingin bercerita tentang novel Salman Rushdie yang diterbitkannya pada tahun 1995 itu dan mendapat beberapa penghargaan sebagai the Best Novel dalam Whitbread Prize tahun 1995. Dan tahun berikutnya, 1996, novel ini mendapat penghargaan dari Aristeion Prize. Meski tak memenangi, novel ini juga pernah dinominasikan dalam Man Booker Prize.

Saya ingin bercerita tentang secuplik kisah kecil kerjasama yang pernah terjalin antara Sultan Muhammad XII dengan Ratu Isabella dan juga Raja Ferdinand. Jauh sebelum singgasana itu goyah, jauh sebelum pengkhianatan itu tiba, mereka memiliki hubungan yang entah bisa disebut apa.

Puncaknya, 2 Januari 1492, Granada harus diserahkan oleh Sultan Muhammad XII kepada Ratu Isabella dan Raja Ferdinand yang telah menang setelah mengadu domba dua bersaudara. El Chico, begitu orang-orang Spanyol menyebut Sultan Muhammad XII, artinya yang kecil. Beberapa di antaranya, bahkan memberi gelar el zogoybi yang berarti dia yang kurang beruntung. Sebutan-sebutan itu adalah gambaran kecil untuk membangun kecemburuan sang sultan terhadap saudaranya, yang ternyata dipilih oleh sang ayah untuk menggantikan dan menduduki tahta.

Kekuasaan selalu menyimpan seribu misteri dan segala konspirasi. Tak ada yang lurus dan lempang di dalam bahasa politik. Lain yang disebut, lain pula yang direncanakan. Lain yang direncanakan, beda pula yang dijelaskan. Ratu Isabella dan Raja Ferdinand yang awalnya seolah berpihak dan akan membantu Sultan Muhammad II untuk meraih tahta, kini berbalik arah menggulingkannya. Dan segalanya, berawal dari rasa kepemilikaan atas sebuah klaim kekuasaan.

Dan ketika kesadaran itu datang, kejadian-kejadian sudah terlalu liar untuk dikendalikan. Pengkhianatan Isabella dan Ferdinand sudah terlalu dalam untuk dicarikan penawar, apalagi dikalahkan. Betapapun gigihnya pasukan pasukan Kesultanan Andalusia melakukan perlawanan, kekuasaan Islam yang sudah bertapak lebih dari 800 tahun berakhir dengan mengenaskan.

Dulu, ketika menyeberang Selat Gibraltar, pasukan yang dipimpin Tariq bin Ziyad masuk dengan gagah berani dan kepala yang tegak menantang. Di bakarnya kapal-kapal agar pasukan tak memikirkan cara untuk pulang. Kalah bukan pilihan. Maju terus dan meraih kemenangan. Tapi setelah 800 tahun Islam berkuasa di Andalusia, Sultan Muhammad XII harus menyeberangi Selat Gibraltar dengan kepala tertunduk dan dada yang ditikam-tikam kesedihan.

Kerajaan menjadi neraka sebelum neraka yang sesungguhnya. Saling berebut tahta menjadi agenda paling besar para pembesar. Dan hal ini dimanfaatkan dengan cerdik oleh musuh-musuh yang menghendaki khilafah Islam Andalusia bubar. Dan ketika pasukan Isabella dan Ferdinand datang menyerang, mengepung selama tujuh bulan, pembunuhan besar-besaran dilakukan, perlawanan hebat juga telah diberikan, tapi apa mau dikata, tubuh kepemimpinan umat sudah rapuh akibat saling seteru.

Dan ketika Islam dan kaum Muslimin dikalahkan, yang menjadi korban tak hanya manusia, tapi seluruh sisi peradaban. Seorang Kardinal memerintahkan pasukannya Spanyol mengumpulkan seluruh buku-buku tentang Islam dan semua yang berbau Arab untuk dibakar. Tidak saja yang terdapat dalam perpustakaan resmi milik pemerintahan, tapi juga milik pribadi yang tersebar di rumah-rumah. Jumlahnya diperkirakan lebih dari satu juta. Dikumpulkan di tengah lapangan kota Granada dan dimusnahkan dengan cara dibakar dengan diiringi upacara agama. Memusnahkan ilmu pengetahuan Islam, seperti menjadi bagian dari amal ibadah.

Seorang penyair Spanyol menuliskan puisi tentang detik-detik terakhir kepergian Sultan menuju tanah pengasingan:

tuvieron que abandonar muy a su pesar
los fastuosos salones y majestuosos jardines
de los palacios de la Alhambra
donde tanto goce terrenal habían disfrutado
durante varias bienaventuradas generaciones

raja harus pergi
meninggalkan dengan enggan
aula istana Alhambra yang megah dan taman-taman yang indah
di mana kenikmatan duniawi
telah diberkati berbilang generasi

Los débiles rayos del crepúsculo,
procedentes del sol poniente
tras el horizonte que forman las colinas de Loja
apenas permitían discernir
detalles del paraíso perdido

samar-sama senja sirna
dan matahari terbenam jua
cakrawala membentuk perbukitan Loja
raja hanya bisa menyaksikan
rincian surga yang mulai menghilang
(catatan: terjemahan bebas banget, jadi mohon dimaklumi)

Entah berapa kali sejarah sudah berulang dan mengajarkan tentang candu kekuasaan dan bahaya keserakahan. Jika keduanya bertemu dan bersatu, keburukan besar tak hanya akan menimpa individu. Tapi gelombang panjang kerusakan, akan terjadi menimpa semua lini kehidupan. Mudah-mudahan kita mampu belajar dan tak mengulang sejarah keburukan.

Jul 19, 2010

Nothing Personal

Suatu hari -dari seorang ustadz- penulis mendengar kisah seekor semut yang melakukan perbuatan dan berakibat terbunuhnya seluruh semut. Perbuatan yang semula hanya ia lakukan sebagai respons dan bersifat keputusan personal, ternyata memiliki dampak komunal dan berakibat pada kehidupan sosial.

Syahdan, seorang pemimpin sebuah pasukan duduk di atas tanah dalam perjalanannya menuju suatu tempat. Tanpa sengaja, pimpinan pasukan tersebut menduduki seekor semut yang tak jauh berada dari sarangnya. Sontak, sang semut menganggapnya sebagai sebuah serangan, atau setidaknya pimpinan pasukan tersebut telah membuatnya kesakitan.

Sebagai respons, tanpa pikir panjang ia melawan, membalas dengan gigitan. Sang semut hanya merespons berdasarkan insting bertahan dan reaksi atas rasa sakit yang ia rasakan. Pertimbangannya menggigit pimpinan pasukan itu, benar-benar pertimbangan personal. Tentu saja tanpa ia rundingkan terlebih dulu dengan kepala suku semut, atau induk semang. Yang ia pikirkan hanya membalas kesakitan.

Sang pimpinan pasukan, mendapati dirinya kesakitan digigit semut, lalu melakukan reaksi yang tak terbayangkan oleh semut yang menggigitnya. Pimpinan pasukan tersebut memerintahkan beberapa orang dari pasukannya untuk membakar sarang semut yang ada di sekitar mereka. Dan begitulah hari itu berakhir dengan terbakarnya seluruh klan semut hanya karena sebuah gigitan seekor semut yang tak berpikir panjang.

Tentu saja jangan mendebat kisah kecil ini dengan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang semut yang memang tak memiliki nalar. Bagi penulis, kisah ini mengajarkan sesuatu, bahwa dalam hidup tak ada yang benar-benar mutlak bersifat personal. Semua selalu memiliki kaitan dan ikatan yang lebih besar. Dan satu peristiwa akan melahirkan, setidaknya berakibat pada peristiwa lain dalam kehidupan yang lain lagi.

Apa yang terjadi dan kita alami hari ini, sesungguhnya adalah hasil dari rentetan keputusan dan peristiwa yang terjadi pada masa sebelumnya. Ketika kita hari ini mengalami kemalangan, hal itu tidak serta merta terjadi pada hari yang sama. Ada peristiwa yang menjadi preambule yang sangat signifikan pengaruhnya. Atau ketika hari ini kita mendapatkan sebuah kesenangan, ada jaring laba-laba yang mengaitkannya dengan kejadian-kejadian masa silam. Tak ada yang benar-benar terlepas dan mutlak independen.

Dan kejadian-kejadian di masa silam itu, biasanya lahir dan muncul, dari keputusan-keputusan yang diambil secara personal. Seorang Presiden dan Wakil Presiden yang hari ini memotong subsidi BBM misalnya, terpilih menjadi kepala negara karena pemilihan umum yang dimenangkannya. Mengapa mereka memenangkan pemilu, karena ada personal-personal yang memberikan suaranya. Mengapa mereka memberikan suara? Terlalu banyak alasan yang bisa kita kumpulkan.

Ada yang dengan analisis pribadi mengatakan, keduanya dipilih karena memang layak dari berbagai sudut pandang. Ada yang memilih karena struktur dan hasil kerja mesin politik. Tapi tak sedikit yang memilih hanya karena calon yang dijagokan berwajah tampan, gagah dan mengagumkan. Semua pilihan berdasarkan pertimbangan dan keputusan personal.

Tapi hari ini, keputusan-keputusan yang kita anggap sebagai keputusan personal tersebut memiliki dampak sosial yang sangat luas dan bisa jadi mematikan. Tidak saja untuk individu, tapi mematikan juga pada tahapan sosial dan komunal.

Alangkah malang nasib kita, yang tak pernah berbuat sesuatu, tapi ternyata di kemudian hari mendapati diri kita terdampak perbuatan orang lain. Lebih malang lagi jika kita yang ternyata menjadi penyebab. Lihat saja contoh soal yang sampai hari ini belum terselesaikan: Lumpur Lapindo.

Mungkin pada awalnya, itu hanyalah keputusan personal seorang pemimpin perusahaan yang melakukan drilling tanpa casing, memilih jalan pintas karena semuanya masih bersifat gambling. Untuk menghemat uang perusahaan ia akhirnya memutuskan melakukan pengeboran tanpa prosedur yang benar. Tapi rupanya, keputusan yang ia pikir sederhana itu kini memiliki dampak komunal yang sangat besar. Ribuan manusia kehilangan tempat tinggal. Mereka kelaparan, tak punya pekerjaan, hidup di pengungsian, pendidikan anak-anak yang terbengkalai, serta seribu dampak sosial yang semakin besar.

Ohoi, alangkah malangnya mereka yang bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa besar yang berdampak pada banyak orang dan kehidupan. Mungkin hari ini mereka bisa berkelit dari tanggung jawab di depan manusia. Tapi kelak mereka akan berdiri dengan lutut gemetar serta mata yang nanar di hadapan Sang Pencipta alam. Dan tak mampu berkata barang sebentar.

Percayalah, tak ada yang benar-benar bersifat personal dan individual. Seluruh dari kita memiliki ikatan dan kaitan, dengan hidup dan peristiwa yang akan dialami oleh manusia lain dalam kehidupan yang berbeda. Karenanya, wahai makhluk yang berakal, pikirkanlah benar-benar perbuatan yang akan kita lakukan.

Jul 11, 2010

Bersegeralah !

BismiLLAH

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. 39:53

Inilah ayat yang menegurku ketika begitu banyak maksiat yang kulakukan. Begitu banyak kedustaan yang kuperbuat. Hingga waktu sepertiga malam yang sering kulalaikan. Dan dzikir pagi dan petang yang kuabaikan. Atau tilawah Quran yang kuanggap begitu ringan, dan hangatnya dhuha yang terlalu sering kutinggalkan. Ego yang kujadikan panutan untuk mengklaim diri paling beriman dan orang lain adalah biang kesalahan. Begitu melampaui batas kemungkaran diri ini sebagai seorang hamba, hamba yang tak memiliki apa-apa, hamba yang faqir dan hina.

Semua ini bukan milikku, semua kegemilangan pemikiran, kecerdasan dan ketepatan berpikir, retorika yang mengagumkan, kemampuan yang lihai dalam bidang yang ditekuni, pakaian yang kukenakan, sepatu yang kupakai tiap harinya, kendaraan yang mengantarkan kemanapun diri ini beranjak. Semua, bahkan rumah tempatku bernaung dari panas dan hujan, air conditioner yang mendinginkan ruangan, sofa tempatku melepas penat, laptop yang kugunakan untuk menulis dan merangkai kata ini. Semuanya, semuanya bukan milikku, atas hak apa diri hamba yang hina ini berani mengklaim bahwa segala karuniaNYA ini 'milikku', 'kepunyaanku', 'hasil usahaku'?

Tak malukah? Tak sadarkah? Bahwa kita seorang hamba yang tak memiliki apa-apa. Tak seujung kuku pun kawan ! Dan karuniaNYA atas diri kita tak pernah berkurang, meski diri kita masih sering sombong, masih sering berdusta, masih sering lalai, masih sering durhaka. DIA menutupkan kekuranganmu dengan berbagai karuniaNYA, DIA mencukupimu bahkan ketika kita tak pernah sekalipun bersyukur kepadaNYA, tak malukah? AmpunanNYA seluas langit dan bumi bahkan lebih dari itu. Ketika kemaksiatan yang kita lakukan begitu beratnya, begitu besarnya, begitu dahsyatnya, namun semua itu tak akan pernah sebanding dengan AmpunanNYA, dengan Kasih SayangNYA, DIAlah Yang Maha Pengampun Maha Penyayang.

Maka janganlah berputus asa dari AmpunanNYA. Bersegaralah, bersegeralah saudaraku ! AmpunanNYA begitu Maha Luasnya untuk segala kemaksiatan yang terlampau sering kita lakukan. Bersegeralah saudaraku, menujuNYA ! Tak terpungkiri bahwa kita pernah salah dan melakukan banyak khilaf, namun itu bukan alasan untuk kita menyerah dan tak pernah berusaha untuk kembali kepadaNYA, bertaubat dan menuju MaghfirohNYA. Kesempatan itu masih ada saudaraku ! Hari ini, detik ini, nafas ini masih lancar menghirup oksigen yang juga milikNYA dan mata ini juga masih jelas memandang ayat-ayatNYA. Maka janganlah seperti firaun yang ketika nyawa sudah tiba di kerongkongan baru dia bertaubat sambil berkata “aku beriman kepada Tuhannya Musa”, namun sia-sialah imannya kala itu.

ALLAH Azzawajall tak pernah kekurangan apapun atas kekufuran kita, tak secuilpun. Tak sebesar dzarrah pun kemuliaannya hilang. SubhanaLLAH, Maha Suci ALLAH. Sungguh manusia itulah yang benar-benar melampui batas, sering mendustakan dan sering melalaikan. Maka hiasilah hari-harimu dengan kesyukuran kepadaNYA, karena kesyukuran kita bermanfaat untuk diri kita. Sungguh ALLAH tak membutuhkan apapun dari kita, hambaNYA. Dan sungguh, sungguh kitalah, hambaNYA yang sangat membutuhkan ALLAH Azzawajall. Kitalah yang begitu mengharapkan AmpunanNYA. Kitalah yang begitu mengharapkan KaruniaNYA. Kitalah hambaNYA, dan kita tak memiliki tempat meminta ampunan dan pertolongan, selain kepadaNYA, ALLAH Azzizul Hakiim.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). QS. 39:54

WaALLAHua'lambishawwab

Disqus for "JANNAH" We're Coming !!!

Komentar Terbaru

Powered by Disqus

Sudah dikunjungi

Ubuntu 11.10 is coming

Let's be friend