BismiLLAH.
Hadiah adalah hal yang yang amat menyenangkan bagi anak-anak. Walaupun pembahasan tentang hadiah ini terlalu luas, saya akan membuat fokus disini yaitu 'Bagaimana agar anak merasa bahagia dengan hadiah yang kita berikan?'
Hadiah bisa diterjemahkan sebagai wujud kasih sayang kita dalam bahasa yang lain.
Dan tentu setiap orang tua pasti ingin menghadiahi anaknya dengan sesuatu yang menggembirakan anaknya. Jangankan orang tua, kita saja yang diundang aqiqah merasa tidak enak bila tidak membawa hadiah.
Namun saya menilai, terkadang kita salah pengertian dengan memberikan hadiah untuk anak. Coba tanyakan kepada diri kita, apakah kita lebih bahagia apabila anak memilih sendiri hadiahnya? atau kita yang memilihkan untuk mereka?
Membawa anak ke department store dan membiarkan mereka memilih hadiah apa yang mereka inginkan adalah hal paling salah yang kita ajarkan kepada mereka. Mengapa?
Karena pada akhirnya mereka akan kecewa dengan kita, walaupun mungkin beberapa waktu kita mampu memenuhi permintaan mereka. Namun adakalanya kita sebagai orang tua tidak menyetujui apa yang mereka inginkan. Disinilah mereka akan kecewa kepada kita.
Celakanya yang menanamkan kekecewaan itu adalah kita, orang tuanya.
Coba bandingkan dengan hadiah yang mungkin harganya tidak seberapa, yang kita bungkus dengan kertas kado yang berwarna-warni indah. Kemudian kita berikan kepada anak selepas kita pulang kerja.
Saya yakin esok ketika ia bertemu dengan temannya disekolah, ia akan berkata dengan bangga bahwa ayahnya begitu sayang kepadanya dan memberikan hadiah kepadanya.
Bagaimana dengan anda? Punya pendapat lain atau ingin berbagi juga? Silahkan komentar.
Terima kasih dan semoga bermanfaat.
Picture by sansanparrots
Showing posts with label ParentingTips. Show all posts
Showing posts with label ParentingTips. Show all posts
Sep 17, 2011
Sep 2, 2011
Parenting Tips #2 : Cara Berkata 'jangan'
BismiLLAH.
Pembahasan kali ini tentang kata 'jangan' yang mengandung unsur 'penasaran'. Mengapa penasaran? Ini yang menarik, secara default manusia akan menjadi penasaran jika dilarang menggunakan kata 'jangan'.
Contohnya jika saya berkata kepada anda "Jangan pikirkan hutan!" ! Apa yang ada di kepala anda sekarang?
Apakah sedang memutar kembali tayangan National Geographic beberapa pekan lalu? Well, that's it, kata 'Jangan' akan menstimulan otak untuk mencari tahu 'ada apa?' kemudian 'mengapa' dan seterusnya sampai otak mendapatkan jawaban yang rasional, terukur oleh kapasitas dirinya.
Nah, jika anak anda telah mencapai usia yang memahami ucapan anda. Ada baiknya menghindari kata ini. Lalu bagaimana cara memberikan warning atau peringatan kepada si anak?
Gunakan namanya dan letakan didepan kalimat perintah. Sebagai contoh :
"Ali ! makanannya dihabiskan" akan berbeda dengan "makanannya dihabiskan, Ali !"
Menurut anda mana yang lebih tegas dan lembut?
Meletakan nama anak di depan kalimat perintah akan menambah ketegasan kita. Bahkan ketika anak mulai sulit diatur, cukup memanggil namanya.
Baik biar lebih terasa analoginya begini. Anda tentu pernah mengalami yang namanya ujian akhir semester di SMA / SMK. Ketika itu yang mengawas kelas anda adalah guru yang sudah anda kenal amat dekat, bahkan anda hormati dan sayangi. Namun karena soal yang anda hadapi cukup sulit, anda memutuskan untuk meletakan buku didalam laci.
Ketika anda merasa tidak diawasi, anda mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut. Perlahan menuju halaman yang anda rasa sesuai dengan yang dimaksud oleh soal. Perlahan anda membacanya, sambil terus berharap berada di halaman yang tepat. Karena asyik anda tak sadar, sang guru tadi mengawasi anda.
Sesaat kemudian, sang guru tadi memanggil nama anda. Apa yang terjadi? Apa yang anda rasakan?
Sang guru tadi hanya menyebut nama anda, dan karena anda memang salah, pasti yang anda lakukan adalah berpikir ulang untuk mencontek. Buku dalam laci tadi sudah pasti anda sorong lebih dalam agar tak terlihat, atau jika ada kesempatan anda ingin kembali masukan kedalam tas.
Sama halnya dengan anak-anak, terutama anak yang sudah mengerti ucapan. Bagi anak seusia mereka banyak hal baru yang ingin mereka coba, nah fungsi orang tua adalah memberi bimbingan, nasihat, dan memberi contoh. Jadi ketika mereka melakukan hal baru yang menurut kita tak baik, ada baiknya kita cegah dengan cara yang baik.
Menjadi orang tua adalah tanggung jawab, amanah. Perilaku dan ahlak anak kita adalah cerminan pendidikan kita terhadap anak kita. Semoga hal yang saya tulis ini bisa menjadi bekal untuk saya mendidik keluarga saya. Masih banyak yang harus dipelajari, masih banyak pula yang bisa di bagi. So, kekurangan pasti dari diri saya dan yang benar datangnya pasti dari ALLAH SWT.
Jika pembaca merasakan manfaat dari tulisan ini, silahkan dishare di twitter, like di facebook, atau di +1 yah. Punya pendapat lain atau sekedar ingin menambahkan? Silahkan komentar yah. Terima kasih.
Picture by Cal Sr
Pembahasan kali ini tentang kata 'jangan' yang mengandung unsur 'penasaran'. Mengapa penasaran? Ini yang menarik, secara default manusia akan menjadi penasaran jika dilarang menggunakan kata 'jangan'.
Contohnya jika saya berkata kepada anda "Jangan pikirkan hutan!" ! Apa yang ada di kepala anda sekarang?
Apakah sedang memutar kembali tayangan National Geographic beberapa pekan lalu? Well, that's it, kata 'Jangan' akan menstimulan otak untuk mencari tahu 'ada apa?' kemudian 'mengapa' dan seterusnya sampai otak mendapatkan jawaban yang rasional, terukur oleh kapasitas dirinya.
Nah, jika anak anda telah mencapai usia yang memahami ucapan anda. Ada baiknya menghindari kata ini. Lalu bagaimana cara memberikan warning atau peringatan kepada si anak?
Gunakan namanya dan letakan didepan kalimat perintah. Sebagai contoh :
"Ali ! makanannya dihabiskan" akan berbeda dengan "makanannya dihabiskan, Ali !"
Menurut anda mana yang lebih tegas dan lembut?
Meletakan nama anak di depan kalimat perintah akan menambah ketegasan kita. Bahkan ketika anak mulai sulit diatur, cukup memanggil namanya.
Baik biar lebih terasa analoginya begini. Anda tentu pernah mengalami yang namanya ujian akhir semester di SMA / SMK. Ketika itu yang mengawas kelas anda adalah guru yang sudah anda kenal amat dekat, bahkan anda hormati dan sayangi. Namun karena soal yang anda hadapi cukup sulit, anda memutuskan untuk meletakan buku didalam laci.
Ketika anda merasa tidak diawasi, anda mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut. Perlahan menuju halaman yang anda rasa sesuai dengan yang dimaksud oleh soal. Perlahan anda membacanya, sambil terus berharap berada di halaman yang tepat. Karena asyik anda tak sadar, sang guru tadi mengawasi anda.
Sesaat kemudian, sang guru tadi memanggil nama anda. Apa yang terjadi? Apa yang anda rasakan?
Sang guru tadi hanya menyebut nama anda, dan karena anda memang salah, pasti yang anda lakukan adalah berpikir ulang untuk mencontek. Buku dalam laci tadi sudah pasti anda sorong lebih dalam agar tak terlihat, atau jika ada kesempatan anda ingin kembali masukan kedalam tas.
fungsi orang tua adalah memberi bimbingan, nasihat, dan memberi contoh
Sama halnya dengan anak-anak, terutama anak yang sudah mengerti ucapan. Bagi anak seusia mereka banyak hal baru yang ingin mereka coba, nah fungsi orang tua adalah memberi bimbingan, nasihat, dan memberi contoh. Jadi ketika mereka melakukan hal baru yang menurut kita tak baik, ada baiknya kita cegah dengan cara yang baik.
Menjadi orang tua adalah tanggung jawab, amanah. Perilaku dan ahlak anak kita adalah cerminan pendidikan kita terhadap anak kita. Semoga hal yang saya tulis ini bisa menjadi bekal untuk saya mendidik keluarga saya. Masih banyak yang harus dipelajari, masih banyak pula yang bisa di bagi. So, kekurangan pasti dari diri saya dan yang benar datangnya pasti dari ALLAH SWT.
Jika pembaca merasakan manfaat dari tulisan ini, silahkan dishare di twitter, like di facebook, atau di +1 yah. Punya pendapat lain atau sekedar ingin menambahkan? Silahkan komentar yah. Terima kasih.
Picture by Cal Sr
Parenting Tips #1 : Nama adalah Doa
BismiLLAH.
Dari judulnya aja udah rada berat nih, 'parenting tips' atau kalau saya terjemah menjadi Tips untuk para Ortu. idealnya memang harus jadi ortu dulu sih baru boleh kasih tips, tapi kan saya juga dalam proses menuju kesitu, so apa yang sudah saya dapat daripada lupa, lebih baik dishare aja, tul gak?
Pembahasan kali ini lebih spesifik tentang 'Nama adalah Doa'.
Ini adalah konsep awal yang harus dipahami mendalam oleh para ortu. Dalam pemberian nama, para ortu harus memiliki niat agar pemberian nama kepada anak itu membawa efek, agar nama itu menjadi bekal kepada anak. Agar nama tidak sekedar nama, namun ia memberikan energi kepada anak. Energi harapan yang bernama doa.
Ini penting, saya ambil contoh ketika ibunda RasuluLLAH SAW ingin menamai beliau Muhammad (SAW). Kala itu bangsa arab sedang dilanda krisis moral dan ahlak yang begitu parah. Kekacauan dan ketidakadilan merajalela. Alasan utama Aminah (ibunda RasuluLLAH SAW) menamai beliau Muhammad (SAW) yang berarti pemilik ahlak terpuji adalah sebuah harapan orang tua yang memiliki cinta agar anaknya tidak seperti kebanyakan manusia kala itu.
Aminah menginginkan anaknya kelak menjadi seorang yang ahlaknya terpuji, baik dan menjadi inspirasi (SAW). Kekuatan doa itu di ijabah ALLAH SWT, karena kini setelah 1400 tahun lebih, Muhammad SAW telah menjadi inspirasi, suri tauladan, karena memiliki ahlak yang mulia. Keteladanannya (SAW) melintas zaman, subhanaLLAH.
Ini adalah kekuatan doa seorang ibunda yang begitu menyayangi anaknya. Jadi, bagi anda para ortu, sebelum memberikan nama, niatkanlah dulu, mintalah petunjuk kepadaNYA.
Jika pembaca merasakan manfaat dari tulisan ini. Silahkan dishare di twitter, like di facebook, atau di +1 yah. Punya pendapat lain atau sekedar ingin menambahkan? Silahkan komentar yah. Terima kasih.
Picture by Dora
Dari judulnya aja udah rada berat nih, 'parenting tips' atau kalau saya terjemah menjadi Tips untuk para Ortu. idealnya memang harus jadi ortu dulu sih baru boleh kasih tips, tapi kan saya juga dalam proses menuju kesitu, so apa yang sudah saya dapat daripada lupa, lebih baik dishare aja, tul gak?
Pembahasan kali ini lebih spesifik tentang 'Nama adalah Doa'.
Ini adalah konsep awal yang harus dipahami mendalam oleh para ortu. Dalam pemberian nama, para ortu harus memiliki niat agar pemberian nama kepada anak itu membawa efek, agar nama itu menjadi bekal kepada anak. Agar nama tidak sekedar nama, namun ia memberikan energi kepada anak. Energi harapan yang bernama doa.
Ini penting, saya ambil contoh ketika ibunda RasuluLLAH SAW ingin menamai beliau Muhammad (SAW). Kala itu bangsa arab sedang dilanda krisis moral dan ahlak yang begitu parah. Kekacauan dan ketidakadilan merajalela. Alasan utama Aminah (ibunda RasuluLLAH SAW) menamai beliau Muhammad (SAW) yang berarti pemilik ahlak terpuji adalah sebuah harapan orang tua yang memiliki cinta agar anaknya tidak seperti kebanyakan manusia kala itu.
Aminah menginginkan anaknya kelak menjadi seorang yang ahlaknya terpuji, baik dan menjadi inspirasi (SAW). Kekuatan doa itu di ijabah ALLAH SWT, karena kini setelah 1400 tahun lebih, Muhammad SAW telah menjadi inspirasi, suri tauladan, karena memiliki ahlak yang mulia. Keteladanannya (SAW) melintas zaman, subhanaLLAH.
Ini adalah kekuatan doa seorang ibunda yang begitu menyayangi anaknya. Jadi, bagi anda para ortu, sebelum memberikan nama, niatkanlah dulu, mintalah petunjuk kepadaNYA.
Karena dalam nama anak tersimpan warisan terbesar dari kedua orang tuanya, yaitu doa.
Jika pembaca merasakan manfaat dari tulisan ini. Silahkan dishare di twitter, like di facebook, atau di +1 yah. Punya pendapat lain atau sekedar ingin menambahkan? Silahkan komentar yah. Terima kasih.
Picture by Dora
Subscribe to:
Posts (Atom)